Pembangunan dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan. Berbagai jenis kegiatan pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan antara lain reklamasi, peningkatan lahan garapan dan hasil panen, serta pengembangan transportasi dan perhubungan.
1) Reklamasi
Pada tahun 1830, penduduk dunia hanya satu miliar orang. Seratus tahun kemudian, tahun 1930, penduduk dunia mencapai dua miliar orang. Pada tahun 2000 penduduk dunia telah melebihi enam miliar, dan diperkirakan pada tahun 2025 menjadi delapan miliar orang. Tingkat pertumbuhan yang cepat ini menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan. Di banyak kota di berbagai negara berusaha mengatasi pertumbuhan penduduk yang cepat dengan menciptakan lahan baru melalui reklamas
Pada tahun 1830, penduduk dunia hanya satu miliar orang. Seratus tahun kemudian, tahun 1930, penduduk dunia mencapai dua miliar orang. Pada tahun 2000 penduduk dunia telah melebihi enam miliar, dan diperkirakan pada tahun 2025 menjadi delapan miliar orang. Tingkat pertumbuhan yang cepat ini menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan. Di banyak kota di berbagai negara berusaha mengatasi pertumbuhan penduduk yang cepat dengan menciptakan lahan baru melalui reklamas
a) Pengeringan Rawa Daerah rawa tidak dapat dimanfaatkan untuk permukiman, pertanian, atau kegiatan lain karena mengandung banyak bahan organik, berlumpur, dan jenuh air. Rawa di daerah pantai akan tergenang air laut saat pasang naik. Sedang rawa di dataran rendah akan tergenang air saat sungai di dekatnya meluap pada musim hujan. Agar daerah rawa bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan lahan bagi manusia, maka perlu usaha pengeringan, yaitu dengan membuat saluran-saluran air dan tanggultanggul yang berfungsi mengalirkan kelebihan air. Sebagai contoh, reklamasi daerah rawa di Pantai Kapuk, Jakarta Utara untuk perumahan mewah, dan proyek lahan sejuta hektare di Kalimantan Tengah untuk lahan pertanian (proyek ini gagal dilaksanakan).
Baca juga peningkatan lahan garapan dan hasil panen
b) Perbaikan Lahan Bekas Tambang
Baca juga peningkatan lahan garapan dan hasil panen
b) Perbaikan Lahan Bekas Tambang
Penambangan batu bara dan timah di Indonesia dilakukan dengan metode tambang permukaan (surface mining). Ketika proses penambangan berlangsung, lapisan tanah dan batuan digali dan dipindahkan. Setelah kegiatan penambangan berakhir, banyak lahan rusak. Pascapenambangan meninggalkan cekungan-cekungan yang dalam dan gundukan- gundukan tanah. Kenampakan ini banyak terlihat di bekas lahan penambangan batu bara di Kalimantan dan penambangan timah di Bangka.
Lahan bekas tambang harus direklamasi agar dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kegiatan. Usaha perbaikan lahan bekas tambang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
(1) Menguruk cekungan-cekungan bekas galian tambang dengan material timbun (overburden).
(2) Mencegah terjadinya air asam dari lahan bekas tambang yang dapat mencemari lingkungan.
(3) Menanami lahan bekas tambang yang sudah direklamasi dengan vegetasi penutup untuk mencegah erosi.
Lahan bekas tambang harus direklamasi agar dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kegiatan. Usaha perbaikan lahan bekas tambang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
(1) Menguruk cekungan-cekungan bekas galian tambang dengan material timbun (overburden).
(2) Mencegah terjadinya air asam dari lahan bekas tambang yang dapat mencemari lingkungan.
(3) Menanami lahan bekas tambang yang sudah direklamasi dengan vegetasi penutup untuk mencegah erosi.
c) Pengeringan Laut
Reklamasi laut yang paling menakjubkan dunia adalah proyek Zwider Zee di Belanda. Lebih dari separuh wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Sejak tahun 1000, Belanda membangun tanggul-tanggul untuk mengontrol banjir. Kemudian, Belanda membangun tanggul yang lebih besar lagi di laut tepi yang dangkal dan mengubah lahan di dekatnya menjadi berdaya guna. Lahan baru hasil pengeringan laut disebut ”polder”. Lahan ini kemudian dimanfaatkan untuk pertanian, permukiman, transportasi, dan rekreasi.
Reklamasi laut yang paling menakjubkan dunia adalah proyek Zwider Zee di Belanda. Lebih dari separuh wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Sejak tahun 1000, Belanda membangun tanggul-tanggul untuk mengontrol banjir. Kemudian, Belanda membangun tanggul yang lebih besar lagi di laut tepi yang dangkal dan mengubah lahan di dekatnya menjadi berdaya guna. Lahan baru hasil pengeringan laut disebut ”polder”. Lahan ini kemudian dimanfaatkan untuk pertanian, permukiman, transportasi, dan rekreasi.